Menguak Dapur Penerbit Mayor

By Nurul Pratiwi - 07:17

source : whatsapp

Tema : Menguak Dapur Penerbit Mayor

Resume ke : 11

Gelombang : 19

Narasumber : Edi S. Mulyanta


“Hidup itu seperti bersepeda. Kalau kamu ingin menjaga keseimbanganmu, kamu harus terus bergerak maju.” – Albert Einstein

Hari rabu adalah waktu dimana saya mengikuti kegiatan pelatihan menulis PGRI. Tidak terasa saya sudah mengikuti beberapa pertemuan dan sekarang saya sudah menginjak pertemuan ke – 11. Secangkir teh manis hangat mengawali saya untuk menulis malam ini. Tidak lupa saya siapkan kedua kawan baik saya, yakni gawai dan laptop tua kesayangan. Tidak ada hal yang paling indah selain diberikan kesempatan untuk menuntut ilmu dan dimudahkan jalan untuk menggapainya. Alhamdulillah.. nikmatnya karunia yang telah Allah berikan.

Waktu sudah menjukan pukul 19.00 WIB, dan tiba lah saatnya saya dapat suntikan ilmu yang luar biasa dari sang narasumber. Acara kali ini dibuka oleh ibu moderator, yakni bu Sri Sugianti yang lebih akrab disapa bu Kanjeng. Narasumber kali ini pun tidak main – main, beliau adalah bapak Edi S. Mulyanta sebagai Publishing Consultant Andi Publisher. Tema yang akan dibahas adalah Menguak Dapur Penerbit Mayor.

Semenjak terbitnya UU no. 3 Tahun 2017, penulis dan penerbit telah dilindungi undang – undang secara penuh. Lalu diikuti pula oleh Peraturan Pemerintah No 75 tahun 2019. Dalam undang – undang tersebut dijelaskan secara detail bagaimana seorang penulis mengajukan naskah hingga menjadi buku.

source : whatsapp
source : whatsapp

Dalam dunia penerbitan dikenal dengan istilah penerbit mayor dan penerbit minor/indie. Hal tersebut sebenarnya tidak ada dalam undang – undang, hanya saja ini hal alamiah yang terjadi. Penerbit mayor adalah sebuah penerbit yang menerbitkan buku dengan skala besar. Penerbit mayor biasanya mampu menjangkau pemasaran buku skala nasional sehingga jumlah produksinya pun lebih banyak dari penerbit indie. Toko – toko buku pun menjadi sasaran empuk pemasaran buku penerbit mayor.

Di era pandemi ini, perubahan pola distribusi buku berlangsung cukup signifikan. Jika dulu toko buku menjadi pusat marketing dunia penerbitan, saat ini justru berubah hal tersebut drastis dikarenakan banyaknya toko buku yang mengalami penutupan.

Menurut pak Edi, identifikasi tema buku menjadi sangat penting saat keadaan di masa pandemi ini. Maka dari itu, banyaknya buku ter-up date  mengenai covid-19 ini dibutuhkan dan banyak pula penulis yang menulis tentang hal tesebut. Tentunya kesiapan penulis sangat dibutuhkan, sehingga penerbit sendiri mempunyai database penulis handal di bidang ini. Penerbit Andi sendiri kini sedang mencoba untuk memenuhi permintaan cetak minimal 10 eksamplar hingga 300 eksamplar.  

Disamping penjualan secara offline, Penerbit Andi pun saat ini mencoba memproduksi buku dalam bentuk digital atau e-book. Kita bisa mengunjungi website bukudigital.my.id untuk melihat buku digital yang telah diproduksi Penerbit Andi.

Koleksi buku digital Penerbit Andi
source : whatsapp

Salah satu trik dari pak Edi agar mempercepat terbitnya buku adalah dengan mengikuti arahan PP no 75, yakni dengan melakukan editing mandiri oleh penulis. Hal tersebut akan sangat berpengarug sehingga membantu singkatnya proses editing oleh penerbit.

“Sukses adalah menyukai diri sendiri, menyukai apa yang kamu lakukan, dan menyukai caramu melakukannya”. – Maya Angelou

 


  • Share:

You Might Also Like

16 komentar

  1. Bagus ulasannya Bu, kalimat pembukanya keren

    ReplyDelete
  2. Wow...keren...pembuka penutupnya menginspirasi, isi ringkas padat..semangat...sukses bersama

    ReplyDelete
  3. Semoga dengan informasi yang mengispirasi ini, dapat memotivasi, hingga segera tercapai untuk mewujudkan buku yang di siapkan dan di impikan

    ReplyDelete
  4. Informatif, sukses, semoga segera menjadi buku

    ReplyDelete
  5. Sangat inspiratif... Semangat dan sukses selalu

    ReplyDelete
  6. Di kemas dengan bahasa yang sangat menarik. Semoga sukses

    ReplyDelete