![]() |
| source : whatsapp |
Tema : Buku Mahkota Penulis, Buku Muara Tulisan
Resume ke : 8
Gelombang Ke : 19
Narasumber : Thamrin Dahlan, SKM, M.Si
"Jika seseorang ingin melihat dunia, maka membacalah. Tapi jika ingin dikenal maka manulislah". – Imam Syafi’i
Buku adalah jedela dunia dan
penulis adalah pekerja peradaban. Seorang penulis menjadi besar akan
pandangannya terhadap dunia. Baitan halus jemarinya menghasilkan tulisan –
tulisan indah yang tak lekang oleh zaman. Namanya pun abadi tak tergerus zaman.
Saya mendapat kesempatan untuk mendapatkan hikmah dan ilmu yang luar biasa pada pertemuan ke-8 Pelatihan Menulis PGRI. Pak H. Thamrin Dahlan, SKM, M.Si didapuk menjadi narasumber kali ini. Beliau adalah seorang penggiat literasi yang sudah menerbitkan 40 buku. Selain itu, beliau pun aktif sebagai dosen. Tema yang beliau angkat kali ini mengenai Buku Mahkota Penulis, Buku Muara Tulisan.
Menulis adalah aktivitas
menuangkan ide atau gagasan, sedangkan buku adalah objek-nya. Di zaman yang
serba canggih ini, sudah banyak kemudahan untuk menerbitkan sebuah buku.
Menerbitkan buku tidak serumit dahulu. Tulisan – tulisan yang sudah kita tulis
jangan hanya menjadi pajangan dan pemenuh memori komputer saja. “Segera
kumpulkan dan kirim ke penerbit!” begitulah ucap pak Thamrin Dahlan dalam
kuliah singkatnya di Whatsapp Group kemarin.
![]() |
| source : whatsapp |
Tulisan – tulisan itu ibarat air mengalir. Tetes demi tetes bergabung menjadi satu, mengalir jauh mencari tempat terendah akhirnya bermuara di lautan.
Itulah buku. Sejatinya buku adalah kumpulan tulisan nan tersarak. Selaiknya karya gemilang, olah pikir perlu diselamatkan menjadi kitab.
Buku adalah muara tulisan
-Thamrin Dahlan
Sejatinya, semua orang bisa
menulis. Saat seseorang fasih dalam berbicara, maka ia pun dipastikan bisa
menulis. Menulis tidaklah sulit. Menulis adalah pekerjaan memindahkan apa yang
kita ucapkan kedalam peralatan menulis. Namun terkadang, ketakutan dan rasa
kurang percaya diri kita menyebabkan sulitnya kita menulis. Padahal,
sesungguhnya kita mampu dan bisa. Alah bisa karena biasa.
Bagaimana caranya agar kita
senang menulis? Tulislah apa yang kamu senangi. Ide yang luar biasa akan datang
silih berganti dengan mudahnya jika kita menyukai apa yang kita tulis. Maka,
mulailah untuk menulis sesuatu yang kita sukai. Berikut ini ada 3 kategori
tulisan yang saya dapatkan dari pak Thamrin Dahlan, diantaranya:
1. Artikel Deskriptif
Untuk menggambarkan atau
melaporkan. Biasanya dalan tuliosan ini akan dibutuhkan azas 5W1H. Contohnya
bisa kita lihat dalam artikel reportase, liputan bahkan laporan.
2. Artikel Eksplanatif
Tulisan eksplanatif hanya
menerangkan dan mengupas permasalahan secara mendalam. Contohnya adlaah dalam
karya ilmiah dan jurnal.
3. Fiksi
Tulisan fiksi menuntut penulis untuk menuangkan segala inspirasi dunia maya kedalam sebuah tulisan yang tak terpisahkan dari seni. Contohnya adalah cerpen, novel dan pantun.
![]() |
| source : whatsapp |
Kapan Waktu Menulis?
Tidak bisa dipastikan kapan waktu yang baik untuk menulis, karena setiap orang mempunyai kebiasaan menulisnya masing – masing. Ada yang senang menulis di waktu senggang, sedang menunggu, sebelum tidur bahkan ba’da subuh. Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah sejatinya kita harus bisa meluangkan waktu setiap hari minimal 1 jam untuk menulis. Menapa demikian? Karena jika hanya menunggu senggang saja, terkadang bagi orang yang mempunyai jadwal padat akan kesulitan dan pada akhirnya tidak menulis.
![]() |
| source : whatsapp |
“Harimau mati meninggalkan belang
Gajah mati meninggalkan gading
Manulis wafat meninggalkan nama
Masalahnya nama Manulisa itu tercantum domana?
Apakah hanya di
Buku nikah
Buku Tabungan
Buku Yasin
Batu Nisan
Kenapa tidak nama kita tercantum di cover depan sebuah atau beberapa buku”.
-Thamrin Dahlan
Berikut adalah penggalan paragraf
yang saya dapatkan dari pertemuan kemarin. Saya sangat setuju dengan apa yang
dipaparkan beliau. Buku adalah tanda keabadian bahwa seorang manusia pernah
hadir di muka bumi ini. Banyak sekali para penulis hebat yang namanya masih
harum dan bahkan dikenal khalayak ramai sampai detik ini. Sebut saja Buya
Hamka, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, NH Dini, dan masih banyak lagi.
Meskipun telah tiada, namun karya dan nama nya tak tergerus zaman, masih abadi
hingga saat ini.
![]() |
| source : whatsapp |




























2 komentar
wow, mantab-keren
ReplyDeleteTerimakasih bu atas kunjungannya😊
Delete