![]() |
| source pict : pinterest |
Hi, welcome to my blog! Sudah lama kiranya aku tidak menulis
di platform ini. Mungkin aku akan mencoba untuk aktif lagi menulis disini
seperti dahulu kala.
Bagi yang belum tahu, perkenalkan, nama saya Nurul.
Saya bekerja sebagai bidan di salah satu Klinik Ibu dan Anak di Kota Bandung.
Tidak hanya merawat ibu yang baru melahirkan, aku dan rekan – rekan lain (red.
perawat) di tempat kerjaku pun sering merawat beberapa orang sakit yang
membutuhkan perawatan.
Baiklah, langsung saja ke topik pembicaraan ya! Kali ini aku
mau berbagi pengalaman dan keluh kesah yang mungkin dilalui segelintir orang
akhir - akhir ini. Beberapa hari yang lalu, aku mendapati beberapa pasien yang
dirawat di klinik tempatku bekerja mempunyai beberapa gejala yang mirip dengan
COVID 19. Itu membuatku dan teman lainnya khwatir dan takut, karena kasus COVID
19 ini sudah banyak terdapat di beberapa tempat di Jawa Barat.
Kita semua tahu, bahwa dunia sedang digegerkan dengan kasus
COVID-19. COVID-19 atau kepanjangan dari Corona
Virus Disease 2019 yang bermula di kota Wuhan, Tiongkok. Jadi singkat
cerita, virus ini sudah menyerang banyak orang di seantero dunia, tak
terkecuali indonesia. Di indonesia sendiri jumlah positif yang terpapar virus
ini sudah mencapai lebih dari 1000 orang. Tentunya dengan jumlah sebanyak itu
membuat Rumah Sakit harus bekerja ekstra keras untuk mengantisipasi datangnya
lonjakan pasien.
TENAGA MEDIS SEBAGAI GARDA TERDEPAN
![]() |
| source pict : pinterest |
Semenjak merebaknya kasus COVID 19 di Indonesia, aku kira peran tenaga kesehatan sangat dibutuhkan akhir - akhir ini, karena lonjakan pasien yang datang ke rumah sakit cukup banyak, maka tenaga medis yang dibutuhkan pun bertambah. Maka, tidak salah pula jika akhir - akhir ini, aku melihat beberapa pamflet di media sosial mengenai pencarian relawan medis/non-medis untuk kasus COVID 19 ini. Aku benar – benar salut sekali kepada orang orang yang bersedia menjadi relawan. Ternyata, begitu banyaknya orang baik yang ingin menolong sesama. Resiko yang dibutuhkan begitu besar, begitu pula tantangannya.
Aku jadi inget sebuah kisah yang dialami temannya temanku
beberapa hari lalu. Jadi temannya temanku ini, sebutlah ia si A, adalah seorang
perawat di sebuah Puskesmas. Tentunya akan lumayan banyak orang yang sakit yang
memeriksakan dirinnya ke Puskesmas. A ini ternyata sudah beberapa hari
mengalami demam, batuk dan sesak. Lambat laun ternyata gejala yang dialaminya
sudah hampir mirip COVID 19. Setelah ditelusuri, ternyata ada salah satu pasien
positif COVID 19 yang pernah memeriksakan dirinya di Puskesmas tempat A
bekerja. Pasien tersebut memang tidak berkata yang sebenarnya mengenai keluhan
dan riwayatnya berpergian selama ini sehingga diagnosa awal pun tidak mengarah
pada COVID 19. Lantas, A sudah dikategorikan sebagai PDP alias Pasien Dalam
Pemantauan.
Bagi yang bekerja di fasilitas kesehatan terkecil seperti Puskesmas
dan Klinik memang harus lebih berhati - hati, karena kita tidak akan pernah tau
siapa yang akan datang untuk berobat. Di beberapa rumah sakit besar mungkin
sudah aware tentang hal ini sehingga
sudah dilengkapi APD (Alat Pelindung Diri). Namun berbeda halnya dengan
puskesmas dan klinik yang mungkin belum mempunyai APD lengkap. Ini menjadi
sebuah dilema dan buah simalakama bagi tenaga kesehatan sendiri.
SEBERAPA PENTINGKAH APD?
![]() |
| source pict : pinterest |
Semenjak COVID 19 menjadi pandemi di berbagai negara, orang -
orang ramai memakai masker yang notabene menjadi APD paling dasar yang bisa digunakan.
Tak terkecuali di Indonesia. Banyak sekali orang yang membeli masker, dari
masker kain hingga masker medis. Sehingga masker pun menjadi barang mahal dan langka.
Beberapa waktu yang lalu, klinik dimana aku bekerja hampir
mengalami kekosongan masker. Saat itu aku melihat stock di bagian Farmasi yang hanya
tersisa 2 box kecil. Apakah 2 box kecil masker akan cukup dipakai hingga pandemi
berakhir? Jika kita tidak memakai masker, mungkin kita pun hanya akan
membahayakan diri kita sendiri. Itu membuat aku dan teman sejawat lain
khawatir, karena kami langsung berinteraksi dengan pasien.
Saat ini, tim medis di klinik tempat ku bekerja sudah mulai
menggunakan jas hujan sebagai pengganti APD lengkap yang biasa kita lihat di
rumah sakit besar pada umumnya. Aku tahu jas hujan bukanlah APD yang umum
digunakan, namun itu salah satu bagian dari langkah preventif untuk mencegah
penularan COVID 19. Jangan bayangkan ber-jas hujan dikala musim hujan bersuhu
dingin, bisa dibayangkan bagaimana panasnya memakai setelan jas hujan saat cuaca
terik alias panas melanda. Padahal, kita harus memakainya selama satu shift
penuh alias 12 jam.
Begitu penting dan berharganya APD bagi para tenaga
kesehatan. Dari sini, aku bisa membayangkan bagaimana rasanya para tenaga
kesehatan yang merawat pasien COVID 19 dengan APD yang berlapis-lapis,
memakainya dalam waktu berjam jam dan
tentunya akan sulit untuk beristirahat, makan dan minum, karena APD ini hanya
sekali pakai. Adapun resiko yang mengintai jika tidak memakai APD lengkap ini.
LET'S FIGHT AGAINTS CORONA
![]() |
| source pict : instagram |
Terkadang aku merasa ketika akan ingin pergi bekerja rasanya
itu seperti hendak berperang. Karena kita tidak akan pernah tahu dengan siapa
kita berhubungan dan pasien apa yang akan datang memeriksakan keadaannya. Sebagian
dari kita tidak akan pernah tahu. Saat dihadapkan dengan hal ini, yang
dipikirkan langsung adalah keluarga di rumah, karena tentunya kita sangat takut
menjadi sebab penularan virus COVID 19 ini di rumah. Banyak pertanyaan yang
muncul. Bagaimana jika kita tidak tahu bahwa kita pulang ke rumah dengan
membawa virus ini? Bagaimana dengan keluarga kita? Orang tua kita?
Tentunya, menjadi seorang tenaga kesehatan tidaklah mudah,
terlebih saat terjadi pandemi seperti ini. Beberapa diantaranya bahkan mengorbankan
untuk tidak berkumpul dengan keluarga terdekat karena untuk menghindari hal
yang tidak diinginkan.
Apresiasiku diberikan setinggi - tingginya kepada seluruh
tenaga medis yang bekerja langsung di lapangan sebagai garda terdepan. Tidak
hanya dokter dan perawat, namun ada analis kesehatan, tenaga kesehatan
masyarakat, tenaga farmasi, security RS, supir ambulance, tenaga gizi dan
lainnya yang tidak dapat aku sebutkan satu persatu.
Ada pun ingin aku sampaikan rasa duka cita yang mendalam
kepada tenaga medis yang telah gugur dalam menangani dan merawat pasien COVID
19, menurutku beliau – beliau layak untuk diberi gelar pahlawan kesehatan. Alfatihah.
Selain itu, aku pun ingin berterimakasih kepada orang - orang
yang sudah mendonasikan sebagian hartanya untuk mendukung para tim medis agar
mencukupi kebutuhan APD yang lambat laun semakin berkurang. Seberapapun
nominalnya sangat berharga.
"A hero is someone who has given his or her life to something bigger than oneself." - Joseph Campbell
Masalah tentang Corona ini menurutku bukan hanya antara pengidap dan tenaga medis saja, tapi ini adalah masalah yang harus kita hadapi bersama – sama. Semua kalangan bisa ikut berperan memberantas virus ini. Maka dari itu, #dirumahaja jika memang tidak terlalu penting untuk keluar rumah, jangan lupa sering cuci tangan, physical distancing dan semangat terus, untuk tim medis yang sedang berjuang di garda terdepan. Stay safe and healthy!
![]() |
| source pict : dok pribadi |




























2 komentar
kece kak postingannya! keep writing!
ReplyDeleteTerimakasih kak sudah menginspirasi :)
Delete