Pahlawan Dibalik Masker

By Nurul Pratiwi - 08:24

source pict : pinterest


Hi, welcome to my blog! Sudah lama kiranya aku tidak menulis di platform ini. Mungkin aku akan mencoba untuk aktif lagi menulis disini seperti dahulu kala.

Bagi yang belum tahu, perkenalkan, nama saya Nurul. Saya bekerja sebagai bidan di salah satu Klinik Ibu dan Anak di Kota Bandung. Tidak hanya merawat ibu yang baru melahirkan, aku dan rekan – rekan lain (red. perawat) di tempat kerjaku pun sering merawat beberapa orang sakit yang membutuhkan perawatan.

Baiklah, langsung saja ke topik pembicaraan ya! Kali ini aku mau berbagi pengalaman dan keluh kesah yang mungkin dilalui segelintir orang akhir - akhir ini. Beberapa hari yang lalu, aku mendapati beberapa pasien yang dirawat di klinik tempatku bekerja mempunyai beberapa gejala yang mirip dengan COVID 19. Itu membuatku dan teman lainnya khwatir dan takut, karena kasus COVID 19 ini sudah banyak terdapat di beberapa tempat di Jawa Barat.

Kita semua tahu, bahwa dunia sedang digegerkan dengan kasus COVID-19. COVID-19 atau kepanjangan dari Corona Virus Disease 2019 yang bermula di kota Wuhan, Tiongkok. Jadi singkat cerita, virus ini sudah menyerang banyak orang di seantero dunia, tak terkecuali indonesia. Di indonesia sendiri jumlah positif yang terpapar virus ini sudah mencapai lebih dari 1000 orang. Tentunya dengan jumlah sebanyak itu membuat Rumah Sakit harus bekerja ekstra keras untuk mengantisipasi datangnya lonjakan pasien.


TENAGA MEDIS SEBAGAI GARDA TERDEPAN

source pict : pinterest

Semenjak merebaknya kasus COVID 19 di Indonesia, aku kira peran tenaga kesehatan sangat dibutuhkan akhir - akhir ini, karena lonjakan pasien yang datang ke rumah sakit cukup banyak, maka tenaga medis yang dibutuhkan pun bertambah. Maka, tidak salah pula jika akhir - akhir ini, aku melihat beberapa pamflet di media sosial mengenai pencarian relawan medis/non-medis untuk kasus COVID 19 ini. Aku benar – benar salut sekali kepada orang  orang yang bersedia menjadi relawan. Ternyata, begitu banyaknya orang baik yang ingin menolong sesama. Resiko yang dibutuhkan begitu besar, begitu pula tantangannya.


Aku jadi inget sebuah kisah yang dialami temannya temanku beberapa hari lalu. Jadi temannya temanku ini, sebutlah ia si A, adalah seorang perawat di sebuah Puskesmas. Tentunya akan lumayan banyak orang yang sakit yang memeriksakan dirinnya ke Puskesmas. A ini ternyata sudah beberapa hari mengalami demam, batuk dan sesak. Lambat laun ternyata gejala yang dialaminya sudah hampir mirip COVID 19. Setelah ditelusuri, ternyata ada salah satu pasien positif COVID 19 yang pernah memeriksakan dirinya di Puskesmas tempat A bekerja. Pasien tersebut memang tidak berkata yang sebenarnya mengenai keluhan dan riwayatnya berpergian selama ini sehingga diagnosa awal pun tidak mengarah pada COVID 19. Lantas, A sudah dikategorikan sebagai PDP alias Pasien Dalam Pemantauan.

Bagi yang bekerja di fasilitas kesehatan terkecil seperti Puskesmas dan Klinik memang harus lebih berhati - hati, karena kita tidak akan pernah tau siapa yang akan datang untuk berobat. Di beberapa rumah sakit besar mungkin sudah aware tentang hal ini sehingga sudah dilengkapi APD (Alat Pelindung Diri). Namun berbeda halnya dengan puskesmas dan klinik yang mungkin belum mempunyai APD lengkap. Ini menjadi sebuah dilema dan buah simalakama bagi tenaga kesehatan sendiri.  


SEBERAPA PENTINGKAH APD?

source pict : pinterest

Semenjak COVID 19 menjadi pandemi di berbagai negara, orang - orang ramai memakai masker yang notabene menjadi APD paling dasar yang bisa digunakan. Tak terkecuali di Indonesia. Banyak sekali orang yang membeli masker, dari masker kain hingga masker medis. Sehingga masker pun menjadi barang mahal dan langka.

Beberapa waktu yang lalu, klinik dimana aku bekerja hampir mengalami kekosongan masker. Saat itu aku melihat stock di bagian Farmasi yang hanya tersisa 2 box kecil. Apakah 2 box kecil masker akan cukup dipakai hingga pandemi berakhir? Jika kita tidak memakai masker, mungkin kita pun hanya akan membahayakan diri kita sendiri. Itu membuat aku dan teman sejawat lain khawatir, karena kami langsung berinteraksi dengan pasien.

Saat ini, tim medis di klinik tempat ku bekerja sudah mulai menggunakan jas hujan sebagai pengganti APD lengkap yang biasa kita lihat di rumah sakit besar pada umumnya. Aku tahu jas hujan bukanlah APD yang umum digunakan, namun itu salah satu bagian dari langkah preventif untuk mencegah penularan COVID 19. Jangan bayangkan ber-jas hujan dikala musim hujan bersuhu dingin, bisa dibayangkan bagaimana panasnya memakai setelan jas hujan saat cuaca terik alias panas melanda. Padahal, kita harus memakainya selama satu shift penuh alias 12 jam.

Begitu penting dan berharganya APD bagi para tenaga kesehatan. Dari sini, aku bisa membayangkan bagaimana rasanya para tenaga kesehatan yang merawat pasien COVID 19 dengan APD yang berlapis-lapis, memakainya dalam waktu berjam  jam dan tentunya akan sulit untuk beristirahat, makan dan minum, karena APD ini hanya sekali pakai. Adapun resiko yang mengintai jika tidak memakai APD lengkap ini.


LET'S FIGHT AGAINTS CORONA

source pict : instagram

Terkadang aku merasa ketika akan ingin pergi bekerja rasanya itu seperti hendak berperang. Karena kita tidak akan pernah tahu dengan siapa kita berhubungan dan pasien apa yang akan datang memeriksakan keadaannya. Sebagian dari kita tidak akan pernah tahu. Saat dihadapkan dengan hal ini, yang dipikirkan langsung adalah keluarga di rumah, karena tentunya kita sangat takut menjadi sebab penularan virus COVID 19 ini di rumah. Banyak pertanyaan yang muncul. Bagaimana jika kita tidak tahu bahwa kita pulang ke rumah dengan membawa virus ini? Bagaimana dengan keluarga kita? Orang tua kita?

Tentunya, menjadi seorang tenaga kesehatan tidaklah mudah, terlebih saat terjadi pandemi seperti ini. Beberapa diantaranya bahkan mengorbankan untuk tidak berkumpul dengan keluarga terdekat karena untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

Apresiasiku diberikan setinggi - tingginya kepada seluruh tenaga medis yang bekerja langsung di lapangan sebagai garda terdepan. Tidak hanya dokter dan perawat, namun ada analis kesehatan, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga farmasi, security RS, supir ambulance, tenaga gizi dan lainnya yang tidak dapat aku sebutkan satu persatu.

Ada pun ingin aku sampaikan rasa duka cita yang mendalam kepada tenaga medis yang telah gugur dalam menangani dan merawat pasien COVID 19, menurutku beliau – beliau layak untuk diberi gelar pahlawan kesehatan. Alfatihah.   

Selain itu, aku pun ingin berterimakasih kepada orang - orang yang sudah mendonasikan sebagian hartanya untuk mendukung para tim medis agar mencukupi kebutuhan APD yang lambat laun semakin berkurang. Seberapapun nominalnya sangat berharga.

"A hero is someone who has given his or her life to something bigger than oneself." - Joseph Campbell

Masalah tentang Corona ini menurutku bukan hanya antara pengidap dan tenaga medis saja, tapi ini adalah masalah yang harus kita hadapi bersama – sama. Semua kalangan bisa ikut berperan memberantas virus ini. Maka dari itu, #dirumahaja jika memang tidak terlalu penting untuk keluar rumah, jangan lupa sering cuci tangan, physical distancing dan semangat terus, untuk tim medis yang sedang berjuang di garda terdepan. Stay safe and healthy!


source pict : dok pribadi



  • Share:

You Might Also Like

2 komentar