Jika mendengar kata menulis, maka tidak akan jauh – jauh dari yang namanya membaca. Menulis adalah adalah tonggak sebuah peradaban (HB.Yassin). Jika kita mengabaikan menulis, maka, kita akan menjadi manusia yang terbelakang. Itu bisa dibuktikan jika suatu negara yang mayoritas penduduknya tidak bisa menulis atau bahkan membaca, negara tersebut bisa menjadi negara yang terbelakang. Karena, suatu negara yang maju atau berkembang adalah warga negaranya yang dapat berinteraksi (entah dengan menulis ataupun membaca) dengan Negara lain. Sedangkan, jika mayoritas suatu Negara tidak bisa membaca dan menulis, apa mungkin dapat menjadi suatu Negara yang berkembang, bahkan maju?
Menurut survey yang dilakukan HB.Yassin pada tahun 70-an menyebutkan bahwa minat membaca terendah di dunia adalah Indonesia. Berbeda dengan negara lain, yakni jepang dimana orang – orang sangat mempunyai minat membaca. Dimulai dari mahasiswa, pelajar, ibu rumah tangga, petani bahkan gelandangan pun demikian.
Dalam Al-Qur’an jelas dikatakan dalam surat Al-Alaq ayat 1, Iqra' (dari qara'a, membaca) berarti 'Bacalah!' Maka, dalam agama tegas dijelaskan untuk selalu memembaca. Sejelek tulisan apapun tulisan kita, itu lebih baik dari pada orang yang cemerlang sekalipun. Maksudnya, tulisan akan selalu ada sampai kapanpun contohnya adalah tulisan yang disimpan 25 tahun yang lalu akan selalu ada. Tetepi, berbeda dengan orang cemerlang yang selalu memberikan cermah kepada orang – orang , jika ia meninggal, ilmunya akan hanya sampai disitu dan takkan menurun kepada orang lain karena bisa saja ceramah yang dilakukannya beberapa tahun yang lalu lupa oleh orang – orang yang mendengarnya.
Ada 4 resep menulis, diantaranya :
1. 1. Praktek
2. 2. Praktek
3. 3. Praktek
4. 4. Teori
Jika diibaratkan, sehebat apapun kita tahu teori berenang, belum tentu ia dapat berenang. Sama halnya dengan menulis, sehebat apapun teori yang kita tahu tentang menulis artikel, belum tentu kita dapat menulis artikel dengan baik. Maka kesimpulannya, kita harus mempraktekan menulis ketimbang terus menerus belajar teori artikel.
Terkadang, kita membuang buang - buang waktu untuk menulis artikel dan hasilnya pun artikel yang kita buat banyak menuai kritik, cercaan dan maki. Tapi, apa kita harus menyerah dan berhenti menulis?? Jawabannya jelas TIDAK!! Keberhasilan kita datang karena adanya tumpukan kegagalan. Kita harusnya belajar akan segala kegagalan kita. Semua kegagalan yang dilalui adalah proses untuk maju dan kita harusnya introspeksi diri dengan kegagalan tersebut. Bisa saja jika artikel kita ada yang kurang enak dibaca,maka kita perbaiki kekurangan tersebut. Janganlah takut untuk dikritik dan dicerca, karena nanti mereka akan balik memuji.























0 komentar